Fakta24news.id – Pacitan, Tidak semua pemimpin dikenang karena jabatan dan pangkat yang melekat di pundaknya. Sebagian justru meninggalkan kesan karena hal-hal sederhana: kesediaan mendengarkan, keramahan saat menyapa, kepedulian terhadap sesama, hingga keberanian menerima kritik tanpa harus merasa terusik.
Sosok itu tergambar dalam diri AKBP Ayub Diponegoro Azhar selama mengemban amanah sebagai Kapolres Pacitan.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pacitan Kota 1001 Goa, Ayub membawa semangat untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara kepolisian dan masyarakat. Baginya, tugas polisi tidak semata-mata menjaga keamanan, menegakkan hukum, atau melakukan penindakan terhadap pelanggaran. Lebih dari itu, polisi harus mampu hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Ada pendekatan yang berusaha ia bangun: mendekat tanpa membuat jarak, melayani tanpa mempersulit, serta bekerja tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai pimpinan kepolisian, Ayub dikenal membuka ruang komunikasi dengan berbagai kalangan. Masyarakat, tokoh agama, pemuda, organisasi kemasyarakatan, hingga insan pers menjadi bagian dari jejaring komunikasi yang terus ia rawat.
Baginya, keamanan bukan pekerjaan satu institusi. Keamanan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepercayaan, komunikasi, dan kolaborasi.
Salah satu kebiasaan yang menarik dari Ayub adalah mengajak rekan-rekan jurnalis se kabupaten Pacitan untuk duduk bersama, ngopi bareng, dan berbincang santai.
Pertemuan itu bukan sekadar agenda silaturahmi atau kegiatan seremonial. Di balik secangkir kopi, ada ruang dialog yang dibangun untuk bertukar pikiran, menyampaikan kritik, memberikan saran, sekaligus mengevaluasi berbagai hal yang berkaitan dengan pelayanan Polres Pacitan.
Tidak ada pembicaraan yang harus selalu berakhir dengan pujian. Justru kritik dan masukan menjadi bagian penting dalam percakapan tersebut.
Ayub memahami bahwa jurnalis memiliki sudut pandang tersendiri dalam melihat persoalan di tengah masyarakat. Apa yang mungkin luput dari perhatian institusi, terkadang justru terlihat oleh wartawan melalui aktivitas peliputan sehari-hari.
Karena itu, ia tidak menempatkan kritik sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Menurutnya, evaluasi merupakan salah satu cara untuk memperbaiki pelayanan. Sesuatu yang awalnya kurang baik harus berani diperbaiki agar menjadi lebih baik. Kekurangan bukan untuk ditutupi, melainkan dijadikan bahan pembenahan.
Sikap terbuka semacam ini menjadi penting dalam membangun hubungan antara institusi kepolisian dan pers. Sebab, pers bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga memiliki fungsi kontrol sosial yang menjadi bagian dari kehidupan demokrasi.
Di sinilah ngopi bareng menemukan makna lebih dalam. Bukan sekadar menikmati kopi, melainkan merawat komunikasi agar tidak ada jarak yang terlalu lebar antara institusi, wartawan, dan masyarakat.
Pendekatan humanis Ayub juga terlihat melalui program WADUL Kapolres atau Wadah Aduan Langsung.
Program tersebut menjadi salah satu upaya membuka akses komunikasi bagi masyarakat yang ingin menyampaikan keluhan, pengaduan, maupun persoalan yang membutuhkan perhatian kepolisian.
Melalui sejumlah jalur komunikasi WhatsApp dan layanan Call Center 110, masyarakat diberikan kemudahan untuk menghubungi kepolisian.
Pesannya sederhana: masyarakat tidak perlu merasa takut atau sungkan ketika membutuhkan bantuan.
Sebab, pelayanan kepolisian seharusnya tidak berhenti di balik meja kantor. Kehadirannya harus dapat dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang selama ini kesulitan menjangkau pelayanan.
Langkah tersebut kemudian diperkuat dengan inovasi SIM Bolo Bhabin. Melalui program ini, Bhabinkamtibmas dilibatkan untuk mendampingi masyarakat desa dalam memahami proses pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM).
Warga mendapatkan pendampingan melalui coaching clinic, mulai dari pemahaman aturan lalu lintas, etika berkendara, hingga praktik mengemudi.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan tidak selalu harus menunggu masyarakat datang ke kantor polisi. Dalam kondisi tertentu, justru pelayanan lah yang harus mendekat kepada masyarakat.
Ada sisi lain dari Ayub yang membuat pendekatannya terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Pacitan.
Di sela-sela kesibukan menjalankan tugas, ia juga kerap menyempatkan diri mencoba berbagai kuliner khas daerah.
Bagi sebagian orang, menikmati makanan lokal mungkin hanya kegiatan biasa. Namun, ketika dilakukan oleh seorang pejabat publik yang memiliki ruang komunikasi luas, aktivitas sederhana itu dapat menjadi sarana memperkenalkan potensi daerah.
Pacitan bukan hanya dikenal karena julukannya sebagai Kota 1001 Goa. Daerah di pesisir selatan Jawa Timur ini menyimpan kekayaan wisata yang luar biasa.
Bentang pantainya, deburan ombak Samudra Hindia, gugusan perbukitan, goa-goa alam, hingga kekayaan kuliner tradisional menjadi identitas yang membanggakan.
Ayub turut memberikan perhatian terhadap potensi tersebut. Melalui aktivitas dan kunjungannya ke sejumlah destinasi maupun tempat kuliner, ia ikut memperkenalkan wajah Pacitan kepada masyarakat yang lebih luas.
Baginya, keamanan dan pariwisata memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan.
Wisatawan membutuhkan rasa aman ketika berkunjung. Pelaku usaha membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan usaha. Sementara masyarakat membutuhkan situasi yang tenteram agar aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik.
Karena itu, dukungan kepolisian terhadap sektor pariwisata bukan hanya berkaitan dengan pengamanan lokasi wisata, tetapi juga ikut menciptakan suasana yang ramah bagi siapa saja yang datang ke Pacitan.
Sebab, keindahan alam saja tidak cukup. Rasa aman, keramahan masyarakat, dan pelayanan yang baik juga menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin kepolisian tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya kegiatan, operasi, maupun pengungkapan kasus.
Ada ukuran lain yang tidak kalah penting: seberapa jauh masyarakat merasa terbantu, seberapa mudah pelayanan dapat diakses, dan seberapa besar kepercayaan publik dapat dibangun.
Selama kepemimpinannya, Ayub berupaya mendorong Polres Pacitan agar semakin terbuka terhadap masyarakat. Program pelayanan, komunikasi dengan jurnalis, serta pendekatan sosial menjadi bagian dari upaya tersebut.
Tentu, membangun institusi yang baik bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Selalu ada ruang evaluasi dan pembenahan. Namun, keberanian menerima masukan merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kualitas pelayanan publik.
Di tengah berbagai dinamika kehidupan masyarakat, sosok polisi yang ramah, mudah ditemui, dan bersedia mendengarkan menjadi sesuatu yang berarti.
Sebab, masyarakat tidak selalu membutuhkan pendekatan yang keras. Ada kalanya mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar keluhan, memberikan penjelasan, dan membantu menemukan jalan keluar.
Ayub seolah ingin menunjukkan bahwa pangkat dan jabatan tidak seharusnya menjadi tembok pembatas antara polisi dan masyarakat.
Kedekatan justru harus dibangun dari hal-hal sederhana. Menyapa, mendengarkan, berdialog, menerima kritik, menikmati kuliner bersama masyarakat, hingga ikut memperkenalkan keindahan daerah tempat ia bertugas.
Alhamdulillah, berbagai upaya pembenahan dan pelayanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Polres Pacitan dalam membangun kepercayaan masyarakat. Apresiasi dan respons positif dari warga menjadi dorongan untuk terus mempertahankan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan.
Kelak, ketika masa tugasnya di Pacitan menjadi bagian dari perjalanan kariernya, mungkin bukan hanya seragam dan jabatan yang akan dikenang.
Bisa jadi, masyarakat akan mengingat sosok Kapolres yang pernah mengajak mereka berbicara, membuka ruang pengaduan, duduk bersama wartawan sambil menikmati kopi, serta ikut menikmati dan memperkenalkan kuliner maupun keindahan alam Pacitan.
Sebab, menjadi polisi bukan hanya tentang menjaga ketertiban. Ada tanggung jawab kemanusiaan di dalamnya.
Dan menjadi pemimpin bukan sekadar tentang memberi perintah, tetapi juga tentang kesediaan mendengar suara orang-orang yang dipimpinnya.
Menyambung rasa, menyatukan asa. Karena pada akhirnya, kepercayaan masyarakat tidak lahir dari seberapa tinggi pangkat seseorang, melainkan dari seberapa nyata kehadirannya ketika masyarakat membutuhkan.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno













